Meninggalkan yang Haram Lebih Utama, Dari Pada Mengerjakan yang Wajib!

Meninggalkan yang Haram

Haram dan Wajib

Hukum haram dan hukum wajib derajatnya lebih tinggi haram. Artinya meninggalkan apa yang diharamkan lebih diutamakan daripada mengerjakan yang diperintahkan, (wajib).

Karena ketika Allah SWT dan Rasulullah SAW melarang mengerjakan sesuatu, maka nash atau ketetapan teksnya (Al-Quran dan Hadits) selalu jelas, tidak samar dan tidak bersayap. Nah, di samping itu semua yang diharamkan oleh Allah dan Rasulullah itu tidak disertai adanya rukhsah. (Hukum darurat merupakan pengecualian).

Hal ini berbeda dengan perintah menjalankan kewajiban (wajib). Karena di samping itu redaksi teksnya ihtimal ... bisa wajib, sunnah dan mubah, dan selalu juga disertai adanya rukhshah. Contohnya; "Perintah shalat sambil berdiri." Ada rukhshah shalat sambil duduk. Perintah puasa; Ada rukhsah tidak berpuasa bagi orang sakit, orang tua renta dan musafir.

Rukhsah adalah hukum yang berubah kepada kemudahan dan keringanan sebab adanya udzur serta tetapnya hukum asal bagi yang tidak mengalami udzur.

Udzur adalah hal yang berkaitan dengan terhalangnya seorang wanita atau laki-laki muslim dalam melakukan ibadah.

Sementara itu sesuatu yang diharamkan oleh para ulama ialah yang diambil dari pemahaman teks. Bukan keterangan teks secara jelas mengharamkan. Para ulama itu tidak berani langsung menghukumi haram. Mereka paling banter menghukumi dengan makruh tahrim.

Makruh Tahrim merupakan upaya ihtiyat para ulama yang tidak seenaknya menghukumi sesuatu dengan haram, disebabkan karena dalil yang masih samar atau masih diperdebatkan.

Apabila sekarang ada orang yang mengharamkan sesuatu. Maka, dalil teks yang dikemukakannya harus jelas terhadap yang dilarangnya. Bukan berangkat dari pemahaman teks yang masih samar, apalagi hanya berangkat dari asumsi-asumsi.

Ini sangatlah fatal! Orang yang seperti itu akan mudah mengharamkan sesuatu, tapi dalil yang dikemukakannya hanya pemahaman. Padahal asal dari sesuatu adalah hukumnya boleh selama tidak ada dalil jelas yang mengharamkannya.

Kaidah ;

الأصل في الأشياء الإباحة، حتى يدل الدليل على التحريم

Hukum asal segala sesuatu itu boleh, (Termasuk memilikimu) Hingga datang dalil yang mengharamkannya (Bahwa kamu sudah menjadi milik orang lain).

Baca Juga : Kitab Kuning Bukan Karena Kertasnya Warna Kuning

Teringat diskusi Prof Eddy dan para pakar di MK beberapa waktu yang lalu bahwa untuk memahami hukum pidana dengan benar jangan hanya kuasai bunyi hukum formilnya saja, seharusnya pahami dahulu asas dan prinsipnya.

Begitu juga dengan hukum Islam, kuasai konsep ushul fiqh dan kaidah fiqhnya, maka kita akan memahami konstruksi bangunan asas dan prinsip hukum-hukum islam secara utuh.

Tidak serta merta mudah melontarkan hukum, ini haram itu wajib, ini sunnah itu makruh dll. Hanya mengandalkan mengutip teks (ayat dan hadits) tanpa mengetahui asas dan prinsip yang dibangun oleh teks tersebut.

Next Post Previous Post