Mengetahui Hadits Belum Tentu Bisa Menyimpulkan Hukum

Menyimpulkan Hukum

Mudzakarah

Mudzakarah artinya dapat dimaknai sebagai bertukar pikiran, berdiskusi, berunding, memberi pertimbangan, nasihat atau konsultasi, mengingatkan tentang sesuatu. Mudzakarah juga seakar dengan kata tadzkirah yang artinya peringatan. Mudzakarah tidak lain adalah etika praktis dalam Islam yang bentuknya dapat berupa musyawarah, dalam konteks tasawuf yakni musyawarah antara murid dengan mursyid.

Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah di antara mereka (QS. Al-Syura: 38).

Orang yang bermusyawarah adalah orang yang dapat dipercaya (HR Bukhari dan Tirmidzi).

Kisah

Al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab "Adab al-Faqih wa al-Mutafaqqih" menceritakan sebuah kisah :

Ada seorang perempuan ikut menyimak sebuah majlis yang dihadiri para pembesar ilmu hadits pada zamannya. Di majlis itu, ada Imam Yahya bin Ma'in, guru Imam al-Bukhari yang bergelar Maha Guru ilmu hadits (Syekh Al-Muhadditsin) pada masanya. Ada juga Abu Khusaimah seorang perawi yang dinilai oleh Al-Khatib sebagai orang yang sangat terpercaya (tsiqah dan tsabat). Ada juga Khalaf bin Salim yang dinilai oleh Imam Ahmad bin Hambal sebagai orang yang tidak diragukan lagi kejujurannya, dan beberapa ulama lain yang sedang mudzakarah tentang hadits.

Kemudian seorang perempuan itu dengan asik menyimak mereka saling bertukaran riwayat dengan menyebutkan banyak jalur. Ada hadits yang diriwayatkan fulan, ada juga oleh fulan, hadits ini tidak diriwayatkan kecuali melalui jalur fulan dan seterusnya.

Di tengah mudzakarah, perempuan itu menanyakan masalah fiqih. Ternyata ia datang dengan tujuan tersebut. Sebab masalah tersebut baru saja ia alami sendiri, yakni ia baru saja memandikan mayit.

“Apakah orang yang sedang haidh boleh memandikan mayit?” tanyanya kepada ulama hadits yang hadir.

Tidak ada satupun ulama hadits yang memberikan jawaban. Semuanya terdiam dan saling melihat satu sama lain. Di tengah majlis tersebut, ada seorang ulama fiqih, Abu Tsaur, ia merupakan salah satu murid dari Imam Syafi'i. Ia menghadap kepada perempuan tersebut, dan memberi jawaban:

“Iya, orang yang sedang haidh boleh memandikan mayit, karena ada hadits Utsman bin Ahnaf, dari Al-Qasim, dari Sayyidatina Aisyah, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya haidh-mu tidak terletak di tanganmu." Juga ada hadits dari Sayyidatina Aisyah, bahwa beliau mengusap kepala Rasulullah SAW dengan air. Sayyidatina Aisyah waktu itu sedang haidh.”

Abu Tsaur kemudian memberikan komentar pada hadits tersebut: “jika beliau boleh mengusap kepala dengan air terhadap orang yang masih hidup, maka mengusap mayit lebih utama untuk dibolehkan.”

Setelah mendapatkan jawaban dari Abu Tsaur, ulama yang hadir menyetujui jawaban yang diberikan, dan kemudian mereka menambahkan: “ada juga riwayat dari fulan mengatakan begini, dari jalur ini begini, dari fulan haditsnya begini dan seterusnya.”

Dan ulama hadits tersebut terus menyebutkan secara mendalam tentang riwayat dan para perawi hadits. Perempuan yang bertanya tersebut nyeletuk: “anda semua dari tadi kemana saja?”

Baca Juga : Daya Paksa Argumen, Mempercayai Kebenaran

Fiqih

Fiqh merupakan produk ijtihadi, karena itu keputusan fiqh bukan merupakan barang sakral, yang tidak boleh diubah. Definisi fiqh yang "al-muktasab" menunjukkan bahwa fiqh lahir melalui prinsip penalaran dan kerja intelektual yang panjang.

Karena fiqh itu produk ijtihadi, sudah sewajarnya fiqh terus berkembang lantaran banyak hal (sosio budaya, sosio politik dan pola pikir) yang melatarbelakangi hasil penggalian hukum yang mungkin mengalami perubahan.

Berdasarkan kaidah "al-ijtihad la yunqadhu bi al ijtihad" (suatu ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lain). Saya kurang sependapat dengan prinsip rajih dan marjuh 'alaih (pendapat yang mengunggulkan pendapat imam tertentu dan melemahkan pendapat imam lain). Karena itu termasuk menyalahi semangat prinsip fiqh sebagai produk ijtihadi.

Ijtihadi fuqaha mungkin tidak pas pada ruang dan waktu tertentu, tetapi mungkin sesuai dengan bentuk dan waktu yang berbeda. Ijtihadi fuqaha tentu juga bisa salah dan bisa benar. Karena itu kita jangan menggunakan pendekatan like dan dislike, ini mu'tabar itu tidak.

Karena boleh jadi pada bagian tertentu kebetulan berbeda, di samping alasan menghindari fanatisme bermazhab.

Next Post Previous Post