Kitab Kuning Bukan Karena Kertasnya Warna Kuning

Kitab Kuning

Kenapa dinamakan dengan kitab kuning? Kitab kuning adalah kitab yang biasa dipake oleh para ustadz, para kyai, para santri-santri dikalangan pesantren. Baik pesantren modern/pesantren salafy.

Atau ada juga diantara kalian yang bukan santri, bukan ustadz, bukan kyai, atau bukan orang yang tidak berada dipesantren. Tetapi kalian senang membaca kitab kuning. Nah, jadi kalian juga termasuk dalam kategori tersebut. Sebenernya kitab kuning itu umum, bisa dipakai oleh semua orang.

Kitab kuning bukanlah kitab yang kertasnya berwarna kuning, sebagaimana yang banyak disalah pahami oleh orang-orang. Termasuk kalangan santri sendiri, dan bahkan termasuk kyainya sendiri.

Kuning dalam istilah kitab kuning itu bukan menunjuk pada warna. Ketika saya berkata Air Putih : "Apakah air itu berwarna putih?" Ya, Ngga kan. Warna airnya bening, Kenapa disebut air putih? Karena putih itu menunjukan sesuatu yang belum terkontaminasi apapun. Sehingga dinamakan air putih, meskipun warnanya bukan putih.

Kita juga mengenal istilah yang namanya "Blue-Film" Apakah filmnya warnanya biru? "Kan tidak". Tapi kenapa disebut dengan "Blue-Film" atau Film Biru? Karena tempat tercetusnya istilah "Blue-Film" sebab biru itu identik dengan sesuatu yang tabu, atau yang saru, atau dikandesi moral. Maka film porno disebut sebagai "Film-Biru".

Nah, itu mah biru disana, kalau biru di Indonesia. Biru itu menunjukan sesuatu yang agung. Makanya ada istilah; "Dia ini adalah turunan darah Biru." Lalu apakah darahnya biru? "Tidak". Darahnya tetap berwarna merah. Tapi darah biru itu menunjukan sesuatu yang derajatnya tinggi (Bangsawan). Makanya disebut dengan darah biru.

Bintang kecil dilangit yang biru. Apakah bintang itu kecil? "Tidak" Bintang itu Besar. Lalu mengapa disebut kecil? Karena terlihat kecil sama seperti halnya "Matahari Terbit." Apakah matahari terbit? "Tidak". Matahari itu berputar, matahari juga tidak terbit dan juga tidak tenggelam. Tapi kenapa disebut tenggelam? Karena terlihat oleh mata, bahwasanya kalau matahari itu tenggelam.

Bintang kecil karena terlihat oleh mata kecil. "Dilangit yang Biru". Biru itu bukan warna, karena bintang terlihat hanya dimalam hari. Dan ketika malam hari, langit tidak terlihat biru, tapi hitam. Kenapa dikatakan biru? Karena biru menunjukan sesuatu yang tinggi. Nyatanya di Indonesia seperti itu.

Sama juga seperti halnya dengan birunya cinta. "Birunya cinta kita Berdua, Semoga abadi seperti Birunya Langit."

Baca Juga : Konteks Zina, Tuduhan Zina Dan Zina Di Paksa

Penjelasan

Kitab kuning dinamakan kitab kuning karena kuning itu bahasa arabnya " أصْفَر " atau " صَفْرَاء ".

Di Arab kata أصْفَر " atau " صَفْرَاء " itu menunjukan sesuatu yang kosong.

Ketika saya berkata;


  • "Seseorang Yang Jatuh Miskin" : أَصْفَرَ الرَّجُلُ

Miskin karena mungkin dompetnya kosong atau isi rekeningnya kosong. Dan ketika saya berkata;


  • "Mengosongkan Rumah/Membersihkan Rumah" : اِصْفَارُ الْبَيْتِ
  • Nol disebut juga dengan  " صِفْر " Karena dia kosong.

Istilah kitab kuning itu bukan karena kertas kitabnya berwarna kuning. Tetapi karena dia kosong, tidak ada harokatnya atau yang disebut dengan kitab gundul. Sehingga bilamana ada kitab yang tidak ada harokatnya/makna gandulnya. Maka itu disebut dengan kitab kuning, walaupun kertas kitabnya berwarna putih.

Dan kitab kuning juga biasa di identikan dengan "Kitab Turots". Kata turots sendiri dalam bahasa Arab berarti warisan, maksudnya adalah buku-buku warisan atau peninggalan ulama-ulama klasik/terdahulu.

Dan kalau kitab "Muashir" itu istilahnya adalah kitab kontemporer. Untuk istilah kontemporernya saya kurang tau. Tapi tidak ada yang namanya istilah "Kitab Putih". hanya ada kitab kuning. Karena saya ketika di pesantren-pesantren itu tidak menggunakan kitab kontemporer untuk pengajian tetapnya. dan sampai sekarang di pesantren-pesantren masih menggunakan kitab klasik/turots/kitab kuning.

Kitab-kitab kontemporer hanya untuk penunjang saja, biasanya diajarkan di sekolah-sekolah. Tapi sama pentingnya; Karena kehidupan terus berkembang. Dan kita membutuhkan refrensi-refrensi baru. Meskipun, sebenernya kita juga bisa walaupun hanya bermodal kitab-kitab kuning saja. Tapi kita juga harus berupaya lebih keras lagi untuk meng-Qiyaskan dari yang sudah ada di kitab-kitab kuning tersebut.


Wallahu A'lam,

Next Post Previous Post