Saya Bukan Kyai, Saya Bukan Ustadz

Saya Bukan Kyai

Pernah gak sih kalian mendengarkan atau melihat seorang penceramah diatas panggung besar dan disaksikan oleh ratusan atau bahkan ribuan orang? Lalu dia berkata : "Saya ini bukan ustadz, Saya ini bukan kyai, Saya hanyalah orang bodoh". Tetapi dia malah tetap ceramah. How about this?

Menurut saya, itu sangatlah aneh banget. Mungkin diantara kalian akan ada orang yang berkata; "Itu kan biar Tawadhu."

Perbedaan

highlight Bedakan antara biar Tawadhu dan biar dibilang Tawadhu.

Kan itu sangatlah berbeda banget, betul bukan? Kan ada juga yang bilang; "Ya, tapi kan semua Nabi juga mengaku bahwa dirinya itu dzolim. Dan gak ada seorang Nabi pun yang mengaku bahwa dirinya sebagai Nabi".

Kata siapa? Makanya kalo bodoh itu ya belajar, bukan malah ceramah wkwkwk. Sudah ngaku dirinya bodoh, bukannya belajar kok malah ceramah.

Biar Tawadhu itu adalah ketika dia pinter, cerdas, alim, kemudian dia mengaku dirinya bodoh, dan ia pun tidak akan marah jika dibilang bodoh oleh orang. Karena dia tidak merasa kalau dia alim dan cerdas.

Berbeda dengan orang yang biar dibilang Tawadhu, dia mengaku bodoh hanya untuk fashion branding agar biar dibilang tawadhu, padahal memang aslinya bodoh. Ketika dibilang bodoh oleh orang-orang malah marah dan gak terima. Kenapa? Karena ia merasa memiliki, merasa pinter, dan ia gak nerima jika ada yang mengatakan bodoh. Cukup dia seorang yang boleh mengatakan bodoh untuk dirinya, orang-orang hanya cukup mengatakan "wah Tawadhu sekali."

highlight Ngaji bukan untuk pinter, tapi untuk menghilangkan rasa pinter. Puncak pengetahuan adalah ketidaktahuan.

Para Nabi Mengaku Bahwa Dirinya Dzolim

Memang ada beberapa Nabi yang mengaku bahwa dirinya dzolim, diantaranya adalah Nabi Adam alaihissalam dan istrinya.

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمۡنَاۤ اَنۡفُسَنَا وَاِنۡ لَّمۡ تَغۡفِرۡ لَـنَا وَتَرۡحَمۡنَا لَـنَكُوۡنَنَّ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ

Artinya; Keduanya berkata, "Ya Tuhan kami, kami telah mendzolimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi." (QS. Al-A'rof: 23).


Lalu kemudian, ada lagi Nabi Yunus alaihissalam.

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya; “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya Aku adalah termasuk orang-orang yang dzolim. (QS. Al-Anbiya: 87).


Lalu kemudian, ada lagi Nabi Musa alaihissalam.

قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Artinya; Dia (Nabi Musa) berdoa, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah mendzolimi diriku sendiri, maka ampunilah aku.” Maka Dia (Allah) mengampuninya. Sungguh, Allah, Dialah Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS. Al-Qosos: 16).


Nah, dari semua ayat itu adalah sebuah pengakuan atas kedzoliman dirinya yang dikatakan oleh para Nabi, dan itu adalah pengakuan para Nabi untuk dihadapan Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Bukan dihadapan manusia. Kalo dihadapan manusia apakah ada Nabi yang mengaku bahwa dirinya sebagai Nabi? Ya jelas ada.

Baca Juga : Profil Ali Ahmad Nawawi

Pengakuan Nabi Dihadapan Manusia

Contohnya Nabi Isa alaihissalam.

قَالَ إِنِّى عَبْدُ ٱللَّهِ ءَاتَىٰنِىَ ٱلْكِتَٰبَ وَجَعَلَنِى نَبِيًّا

Artinya: Berkata Nabi Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi. (QS. Al-Maryam: 30).


Nabi Isa alaihissalam mengaku bahwa dirinya adalah seorang Nabi. Lalu ada juga contohnya yaitu Nabi Musa alaihissalam.

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا مُوْسٰى بِاٰيٰتِنَآ اِلٰى فِرْعَوْنَ وَمَلَا۟ىِٕهٖ فَقَالَ اِنِّيْ رَسُوْلُ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

Artinya; Dan sungguh, Kami telah mengutus Nabi Musa dengan membawa mukjizat-mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Nabi Musa berkata, “Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seluruh alam.”


Lalu ada juga Nabi Musa alaihissalam dengan Nabi Harun alaihissalam.

فَأْتِيٰهُ فَقُوْلَآ اِنَّا رَسُوْلَا رَبِّكَ فَاَرْسِلْ مَعَنَا بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ ەۙ وَلَا تُعَذِّبْهُمْۗ قَدْ جِئْنٰكَ بِاٰيَةٍ مِّنْ رَّبِّكَ ۗوَالسَّلٰمُ عَلٰى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدٰى

Artinya: Maka pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun dan katakanlah, “Sungguh, kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah engkau menyiksa mereka. Sungguh, kami datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk. (QS. Thoha: 47).


Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wassalam pun ada :

قُلْ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنِّى رَسُولُ ٱللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۖ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْىِۦ وَيُمِيتُ ۖ فَـَٔامِنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِ ٱلنَّبِىِّ ٱلْأُمِّىِّ ٱلَّذِى يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَكَلِمَٰتِهِۦ وَٱتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Artinya: Katakanlah : "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al-A'rof: 158).

Notice!

Jikalau ada diantara kalian, ada yang menemukan suatu ayat atau suatu hadits. Jika seorang Nabi mengaku dirinya dzolim dihadapan manusia. Atau Nabi yang mengaku bahwa dirinya bodoh. Jika ada tolong kirimkan ke saya lewat email yang sudah tertera di contact.

"Saya ini orang bodoh, saya ingin mengajak kalian untuk bertauhid kepada Allah dan beriman kepada Allah." Kalo ngomong begitu, apakah nanti orang akan percaya? Lalu siapa yang akan percaya? Sedangkan berbicaranya saja diawali dengan "Saya ini orang bodoh".

Nabi Itu Percaya Diri

Kalau memang ingin membangun personal branding kaya gitu, atau fashionnya biar kaya gitu, atau cuma buat nyentrik aja. Ya udah gitu-gitu aja, gausah menyamakan dirinya dengan Nabi. Sedangkan Nabi tidak kaya gitu, Justru Nabi itu :

قُلْ إِنِّى عَلَىٰ بَيِّنَةٍ مِّن رَّبِّى وَكَذَّبْتُم بِهِۦ ۚ مَا عِندِى مَا تَسْتَعْجِلُونَ بِهِۦٓ ۚ إِنِ ٱلْحُكْمُ إِلَّا لِلَّهِ ۖ يَقُصُّ ٱلْحَقَّ ۖ وَهُوَ خَيْرُ ٱلْفَٰصِلِينَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku berada di atas hujjah yang nyata (Al Quran) dari Tuhanku, sedang kamu mendustakannya. Tidak ada padaku apa (azab) yang kamu minta supaya disegerakan kedatangannya. Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik". (QS. Al-An'am: 57).

Tafsir Al-Muyassar

Katakanlah (wahai rasul kepada kaum musyrikin), ”sesungguhnya aku berada diatas ilmu yang terang yang bersumber dari syariat Allah yang telah Dia wahyukan kepadaku. Yaitu dengan mengesakanNya semata-mata dengan ibadah, dan sungguh kalian mendustakannya.

Dan bukanlah dalam kemampuanku untuk menurunkan siksaan yang kalian minta supaya disegerakan kedatangannya. Tiadalah ketetapan penundaan hal itu kecuali tergantung kepada Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dialah sebaik-baik Dzat yang memutuskan antara kebenaran dan kebatilan melalui keputusan dan hukumnya. (Tafsir Al-Muyassar. Suroh Al-An'am: 57).

Ala Bayyinatin

Nabi itu PD, Ala Bayyinatin. Dan itu diperintahkan oleh Allah "Qul Innii Ala Bayyinatin." Bayyinatin : atas dasar ilmu. Dan itu sudah jelas.

قُلْ هَٰذِهِۦ سَبِيلِىٓ أَدْعُوٓا۟ إِلَى ٱللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا۠ وَمَنِ ٱتَّبَعَنِى ۖ وَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ وَمَآ أَنَا۠ مِنَ ٱلْمُشْرِكِينَ

Artinya: Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan ilmu/pengetahuan yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik". (QS. Yusuf: 108).

Ala Bashirotin: Ilmu/Pengetahuan.

Gus Baha Orang berilmu harus percaya diri, kalau bisa diberitahukan kepada orang-orang, agar orang lain yakin. Sama halnya seperti Dokter spesialis. Ia meyakinkan orang-orang dengan tulisan "Dokter spesialis gigi" didepan tempat kerjanya.


Next Post